Sabtu, 05 Desember 2009

Kekuatan Berpikir Religiusisme (Bag. 2)

Secara kodrati, dalam kehidupannya setiap manusia memiliki target. Sementara itu dalam kehidupan ini sangat banyak alternatif yang harus dipilih, sehingga kadang manusia itu ingin memilih semuanya. Misalnya, selain menjadi manusia yang baik, juga menjadi manusia yang terhormat, manusia yang kaya raya, manusia yang terpopuler, manusia yang masuk surga, manusia yang memiliki banyak istri serta nantinya mendapatkan istri-istri bidadari, dan lain sebagainya, yang pada ujungnya bermakna demi kepentingan syahwat dan perutnya. Namun, pilihan-pilihan itu adalah manusiawi, sebagai konsekwensi dari hidup itu sendiri. Sebab pilihan yang ada pada diri manusia itu hakekatnya hanya ada 2 (dua), yakni pilih hidup atau pilih mati!

Bagi manusia yang pilih mati, barangkali akan melakukan aksi bunuh diri! Tapi bagi manusia yang memilih hidup, bersiaplah menghadapi segala persoalan hidup, antara lain menjadi manusia kaya atau miskin, menjadi manusia berkuasa atau dikuasai, menjadi manusia pandat atau dibodohi, menjadi manusia susah hidup atau hidup senang, dan seterusnya, dan sebagainya. Yang pasti, kelahiran manusia di dunia ini adalah bukan kehendaknya sendiri. Kelahiran manusia adalah atas kehendak Allah, dan setelah itu tentang kehidupannya adalah tergantung pada pilihan manusia itu sendiri. Namun, pilihan untuk mati (bunuh diri), tetaplah tidak dapat dinyatakan sebagai hak pribadi manusia yang bersangkutan. Bunuh diri merupakan ekspresi dari kebodohan berpikir. Oleh sebab tindakan penganiayaan diri semacam itu tidak sesuai dengan harkat dan martabat manusia yang tidak memiliki umwelt.

Memperhatikan bukunya Paul G. Stoltz, PhD yang berjudul “Adversity Quotient (AQ)”, yang menyoroti secara tajam mengenai faktor-faktor paling penting dalam meraih sukses bagi seseorang, tampaknya memiliki keselarasan yang sama dengan ajaran-ajaran agama sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Menurut buku ini kesengsaraan atau kemalangan (adversity), bukanlah titik akhir bagi kehidupan manusia. Manusia cerdas adalah manusia yang mampu mengubah hambatan menjadi peluang, kemampuan mengatasi segala macam kesulitan, serta kesanggupannya untuk bertahan hidup dari kesengaraan dan kemalangan hidup. Terbitnya buku yang membahas tentang adanya tingkatan kecerdasan manusia ini, menunjukkan alat pengukur kecerdasan manusia masih terus berkembang. Dimulai dengan takaran kecerdasan menggunakan metode Intelligence Quotient (IQ), kemudian muncul metode baru yang disebut Emotional Quotient (EQ), dan yang terakhir diperkenalkan adalah metode Adversity Quotient (AQ).

Sebenarnya dalam perkembangan analisis kecerdasan, pernah diperkenalkan mengenai apa yang disebut dengan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Menurut penulis buku berjudul “SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan”, Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ adalah kecerdasan tertinggi yang memiliki daya ubah yang amat tinggi, sehingga dapat mengeluarkan manusia dari situasi keterkungkungan. SQ memungkinkan manusia kreatif, mengubah aturan dan situasi dalam suatu medan tak terbatas. Sedangkan menurut Michal Levin, dalam bukunya berjudul “Spiritual Intelligence, Awakening the Power of Your Spirituality and Intuition”, mengatakan orang cerdas secara spiritual tidaklah semata memiliki kekayaan ilmu pengetahuan tentang spiritual, melainkan pemahaman yang sudah merambah ke wilayah kesadaran spiritual (spiritual consciousness).

Inti sejati kecerdasan spiritual, masih menurut Levin, terefleksikan dalam sikap hidup yang toleran, terbuka, jujur, adil, penuh cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Sikap hidup yang demikian itu telah dapat dinyatakan sebagai puncak kecerdasan spiritual. Dengan kata lain, seseorang dalam keadaan yang seperti itu penghayatan hidupnya memiliki sikap yang arif dan bijak secara spiritual. Dan, dengan kearifannya itu secara hakikat sebenarnya telah berada di atas segi-segi kecerdasan.

Perkembangan terakhir mengenai perspektif tentang kecerdasan ini terjadi ketika sains dirasakan telah kehilangan otoritas sebagai sumber kebenaran -termasuk di dalamnya psikologi- yang melahirkan kecemasan, keterasingan, dan egoisme manusia. Para psikolog kemudian mulai mencari realitas yang tak terobservasi, hingga pada akhirnya para terapis mulai mengaitkan antara nilai-nilai religius dengan gejala psikis.

Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari dinamika kejiwaan itu, dianggap didominasi pemikiran-pemikiran mekanistis dan naturalisme etis itu akhirnya terbukti tidak cukup, dan ketertarikan orang-orang terhadapnya menjadi merosot. (Allen A. Bergin, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Ilmu & Kebudayaan, Nomor 4, Vol. V, 1994, hal. 6)

Kecenderungan pemanfaatan nilai-nilai religius sebagai parameter untuk mendiagnosis gejala psikis ini ditandai dengan semakin banyaknya jurnal-jurnal maupun literatur-literatur ilmiah yang membahasnya. Meski demikian pemanfaatan nilai-nilai religius ini masih menjadi perdebatan, alasannya nilai religius itu dianggap tidak memiliki dimensi psikis sebagai akibat konflik Id-Ego-Superego, maupun dorongan impuls yang lain, tapi lebih bersifat sebagai masalah nilai moral-etis (Ibid, 7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar